Forever Young....
Aku
merasa sedikit emosional saat membaca kata - kata itu. Aku memang baru saja
menyukai kata - kata itu beberapa jam yang lalu, setelah menonton MV BTS (Yeah,kpopers right ?). Tenang saja, aku
disini nggak akan ngebahas soal BTS maupun review MV.
Mungkin
ada beberapa dari kalian yang berpikir setelah ngeliat judul postingan ini. Apa
hubungannya ? Kehidupan mahasiswa kedokteran dengan lagu Forever Young ?
Maksud
aku disini bukan membandingkan antara lagu Forever Young sama kehidupan
mahasiswa kedokteran, karena of course,
Forever Young lebih menceritakan tentang kehidupan mereka (BTS) sebagai idol. Tapi, setelah kalian memahami
makna dari liriknya. Kalian bakal sadar dan menganggap judul postingan kali ini
tidak nyeleneh lagi.
Benar
- benar Rap Monster, berhasil membuatku ubah haluan jadi nge-bias-in dia. Walaupun, benar - benar
susah untuk memilih bias di BTS. But, with this song, Rap Monster make me
realize how smart he is to make the arrangement, and especially the lyrics. I
like boys that can write. They seem more romantic than the other boys. So,
yeah.. here we go.
Lagu
BTS ini bener - bener keluar bertepatan dengan Aku yang lagi merasa putus asa
dan ingin berhenti buat mengejar mimpi menjadi dokter (Dan entah kenapa, liriknya pun benar - benar "ngena"). Aku memang gagal jadi
mahasiswi kedokteran umum, tapi malah melenceng jadi mahasiswi kedokteran gigi.
Walaupun, kehidupan antara mahasiswa kedokteran umum dan kedokteran gigi beda -
beda tipis.
Awal
aku masuk kuliah, aku memang ngerasa malas, karena siapa coba, yang tidak
kecewa kalau impiannya kandas walaupun dia akhirnya menjalani kehidupan yang
sebelas dua belas sama apa yang dia impikan. But, It's a well known fact that every things in this life (not only
about college) never always works with your plan, even your condition (mengutip
dari blog sebelah, si teman yang sekarang mengubah namanya. XD). Jadi, aku
berusaha menjalani kehidupan kuliah se- ikhlas mungkin. Walaupun, setiap ada
cacat sedikit aku pasti akan langsung kesal dan bertekad "Aku harus ikut
SBMPTN lagi tahun depan". Yang pada akhirnya aku akan selalu berpikir
betapa malasnya aku ikut les sana sini lagi hanya untuk mengulang SBMPTN yang
cuma 1 hari dari 366 hari yang kamu punya dalam tahun ini. Useless.
Awal
blok 5 bulan lalu, IP semester 1 aku akhirnya keluar. Dan setelah ngeliat
hasilnya. Damn ! I never feel this
disappointed in my life. Hasilnya mengecewakan. Aku mulai berpikir, apa
yang salah ? Aku jelas tidak terima dengan nilai segitu. Aku tidak pernah
remedi setiap ujian blok, selalu aktif di tutorial, sementara, teman - temanku
yang setiap ujian bloknya remedi bahkan
dapat nilai E sekalipun, punya IP yang lebih bagus dariku. Yang lebih membuat
aku tidak terima, IP-ku bahkan sama saja dengan teman - teman satu kelompok
tutorku yang hanya diam dan menumpang duduk di dalam ruang tutor. What the hell !!
Sejak
saat itu, Aku mulai malas - malasan. Saat dosen menerangkan pelajaran. Aku
ngobrol, main game tidak seperti biasanya. Aku tidak mencatat sama sekali. Dan
puncak dari semua ini dimulai saat ujian Blok 5 beberapa hari yang lalu. Aku
merasa, percuma belajar, kalau nilai kamu toh, cuma segitu - segitu aja.
Jadilah aku belajar dengan ogah - ogahan.
Hari
pertama ujian, aku lalui dengan sedikit perasaan mengganjal di hati. Serasa ada
yang aneh, entah itu karena ada beberapa soal yang aku ragukan jawabannya atau
ada hal lain yang menggangguku.
I stand on the middle of the hot, empty stage
And suddenly I feel so afraid of the void
These mixed feelings
With my life on the line
I pretend to be careless
And suddenly I feel so afraid of the void
These mixed feelings
With my life on the line
I pretend to be careless
H-1
menjelang ujian hari kedua aku benar - benar ngerasa lost dan bingung entah karena apa. Aku mulai merenung. Apa ini
karena aku yang menolak kenyataan ? Menolak kalau IP aku rendah dan mulai ogah
- ogahan belajar ? Aku bingung, ada sedikit rasa bersalah dan penyesalan di
hatiku. Tapi rasa itu kutujukan buat siapa ? Aku berusaha mengacuhkan perasaan
itu dan main - main lagi, baca webtoon, buka
sosmed sampai akhirnya udah waktunya makan siang.
Selesai
shalat zhuhur, bukannya tenang aku malah mulai merasakan hal itu lagi. Rasa
mengganjal dan menyesal yang membuat dadaku sesak. Ditambah lagi aku cuma ada
di dalam kamar kos - kosan yang kecil dan penuh dengan barang - barangku. Aku
mulai berpikir lagi. Apa karena aku nggak belajar ? Jadi dengan malas - malasan
aku mulai membuka buku dan membaca beberapa materi untuk ujian. Tapi semua cuma
bertahan setengah jam, Aku mulai mengacuhkan perasaan itu lagi dan kembali main
- main.
Sampai
kira - kira jam 5 sore, hujan lebat turun di daerah kos - kosanku. Aku tiba -
tiba merasa ingin menelepon ibuku. Jadi, aku mengambil handphone dan mulai
bercerita dengan ibuku. Kira - kira setelah 15 menit, Aku mulai mengeluh pada
ibuku, jadilah aku mengatakan kalau hari ini perasaanku tidak tenang sama
sekali. Aku mulai menceritakan semuanya. Semua yang aku pikir merupakan awal
mula dari rasa sesak di dadaku.
Trying to comfort myself
I tell myself the world can’t be perfect
I start to let myself go
The thundering applause, Ican’t own it forever
The thundering applause, I can’t own it forever
I tell myself the world can’t be perfect
I start to let myself go
The thundering applause, Ican’t own it forever
The thundering applause, I can’t own it forever
Ibuku
bilang "Kalau kamu sedih dan masih memikirkan masalah IP mu, yang ada
malah kamu yang nantinya sakit. Sekarang coba tenangkan dulu dirimu, nanti
selesai Magrib coba kamu buka buku, berdoa, siapa tau kamu jadi fokus belajar.
Kalaupun nantinya nilai kamu jelek, nggak apa - apa. Yang penting kamu udah
belajar. Semangat !! Katanya mau jadi dokter ".
Berbekal
dari kata - kata Ibuku tadi, sedikit pikiranku mulai terbuka. Mungkin selama
ini jalan yang aku hadapi terlalu lurus dengan rintangan yang kalaupun ada cuma
sedikit. Aku mulai meyakinkan dalam hati kalau hidupku nggak mungkin terus -
terusan berjalan lancar tanpa hambatan.
I tell myself, so shameless
Raise your voice higher
Even if the attention isn’t forever, I’ll keep singing
I want to stay this way for life
I want to stay young forever
Raise your voice higher
Even if the attention isn’t forever, I’ll keep singing
I want to stay this way for life
I want to stay young forever
Setelah
lama merenung aku mulai sadar, betapa tidak tau malunya aku mengeluh pada
orangtuaku yang bahkan selama ini tidak pernah sekalipun mengeluh dengan segala
permintaan dan kelakuan kekanak - kanakanku. Pilihan untuk jadi dokter ini
semua adalah pilihanku sendiri. Jadi, aku harus siap dengan segala resiko dan
apapun hal yang akan aku hadapi nantinya.
Forever we are young
Under the flower petals raining down
I run, so lost in this maze
Forever we are young
Even when I fall and hurt myself
I keep running toward my dream
Under the flower petals raining down
I run, so lost in this maze
Forever we are young
Even when I fall and hurt myself
I keep running toward my dream
Biarpun
nantinya resiko itu akan menghancurkanku, membuatku rusak sedikit, tapi tidak
apa - apa. Aku akan memperbaiki semua kerusakan itu nanti. Saat aku berhasil
menggapai semua mimpiku. Aku sadar, rasa bersalah tadi sebenarnya adalah rasa
bersalah yang aku tujukan untuk diriku sendiri. Tega - teganya aku mematikan
mimpiku sendiri, menyerah di waktu yang bahkan belum seberapa untuk aku
mencapai semua yang aku impikan untuk tercapai.
Selama
memikirkan hal itu, Aku tidak sadar ternyata aku mulai menangis sesenggukan. Di
tengah hujan deras, benar - benar melankolis dan bukan gayaku. Tapi beginilah
akhirnya, Aku duduk di atas kursi tempatku belajar sambil menangis. Memikirkan
betapa kurang ajarnya aku mengeluh pada orangtuaku, betapa kurang ajarnya aku
mengeluh pada mereka yang selalu berusaha memenuhi kebutuhanku. Betapa tidak
tau malunya aku pada pasienku di masa yang akan datang. Karena, bagaimana aku
bisa meyakinkan dan menyembuhkan pasien kalau aku sendiri menyerah untuk
menyembuhkannya.
Dengan
semua pemikiran yang berkecamuk itu, Aku mulai berteriak sambil masih terus
menangis sesenggukan "Semangat !! Semangat demi impianmu ! Demi orangtuamu
! Demi pasien masa depanmu ! Semangat" Aku tidak peduli jika kakak kos-ku
bingung karena aku berteriak - teriak sendiri di dalam kamarku. Untung suara
hujan yang deras itu agak meredamnya. Setelah shalat magrib dan berdoa (sambil
tetap menangis) Aku mulai membuka buku dan belajar sepenuh hati , bukan hanya
untuk ujian, tetapi juga untuk segala mimpi - mimpiku.
Forever ever ever
(dreams, hopes, forward, forward)
Forever ever ever ever We are young
Forever ever ever (dreams, hopes, forward, forward)
Forever ever ever ever We are young
Forever ever ever ever We are young
Forever ever ever (dreams, hopes, forward, forward)
Forever ever ever ever We are young
Ps : Thanks Rap
monster for arranging such a beautiful and deep meaning song ! I'll always
support you !


Tidak ada komentar:
Posting Komentar